[Review] The Time Keeper, Upaya Membebaskan Diri dari Jeratan Waktu

[Review] The Time Keeper, Upaya Membebaskan Diri dari Jeratan Waktu

Rasanya memang sudah tidak perlu diragukan lagi bagaimana menariknya gaya tutur Mitch Albom dan berbagai pesan penting yang berusaha ia sampaikan dalam setiap karyanya. Saya sudah jatuh cinta dengan tulisannya sejak membaca bukunya yang berjudul The Five People You Meet in Heaven sebagai bagian dari tugas kuliah dulu. Sejak itu saya berusaha membeli buku-bukunya yang lain, ya meski saya baru membaca sebagian saja.

Kali ini, yang akan saya bahas adalah bukunya yang tidak kalah menyentuh yaitu The Time Keeper. Berkisah tentang bapak pencipta dan penjaga waktu, dan bagaimana manusia kini justru dibuat kebingungan karena waktu. Entah berharap agar waktu berjalan lebih cepat, ataupun lebih lambat. Akui saja, kita semua pernah berharap demikian. Nah, dalam novel ini, Mitch Albom mengajak kita untuk memahami dan mensyukuri setiap moment yang terjadi tanpa perlu terpaku dan menjadi gelisah atau ketakutan karena waktu. Seperti salah satu petikan paragraf dalam novel ini:

Man alone measures time. Man alone chimes the hour. And, because of this, man alone suffers a paralyzing fear that no other creature endure. A fear of time running out(The Time Keeper, Mitch Albom).

Novel ini menggabungkan kisah legenda Menara Babel dan cerita tentang Father Time atau bapak waktu. Dor adalah seorang anak laki-laki cerdas di zaman purba ketika belum ada yang mengenal waktu. Dialah orang pertama yang mengukur waktu dan kemudian menjadi Father Time. Karena obsesinya untuk menghitung dan mengukur semua hal, ia kehilangan waktu berharga dengan istri yang begitu dicintainya.

The Time Keeper
The Time Keeper

Kemarahannya membuatnya berusaha menaiki menara Babel yang dibangun di bawah pemerintahan saudara laki-lakinya untuk menggugat Tuhan. Namun seperti dalam kisah tentang Babel, menara tersebut runtuh dan semua orang tiba-tiba berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda. Namun Dor tidak mati dalam kejadian tersebut, sebaliknya ia dikurung dalam sebuah gua gelap selama 6000 tahun dan harus mendengarkan penderitaan setiap orang yang terkekang oleh waktu yang telah ia ciptakan.

Kemudian cerita dilanjutkan ke masa sekarang dengan dua tokoh utama lainnya. Yaitu Sarah Lemon, seorang remaja yang tengah jatuh cinta dan ingin segera mengungkapkan perasaannya, dan Victor Delamonte, seorang pria terkaya ke-14 di dunia yang tengah berusaha hidup lebih lama. Kedua orang ini sama-sama bermasalah dengan waktu. Sarah ingin waktu segera berlalu agar ia bisa segera bertemu laki-laki yang ia sukai, dan agar ulang tahun laki-laki tersebut segera datang agar ia bisa segera memberinya hadiah. Sementara Victor Delamonte, merasa waktu berlalu begitu cepat, sedang ia sudah digerogoti penyakit yang akan segera membunuhnya. Sehingga ia memutuskan untuk membekukan tubuhnya agar bisa dihidupkan lagi di masa mendatang.

Dor yang sudah dikurung selama 6000 tahun kemudian dilepaskan dan harus membantu dua orang di masa sekarang, yaitu Sarah Lemon dan Victor Delamonte. Dalam pertemuan tersebut, Dor harus mengajari kedua orang ini makna waktu yang sesungguhnya dan bagaimana mereka harus menghadapinya.

The Time Keeper karya Mitch Albom
The Time Keeper karya Mitch Albom

Beberapa kata yang menurut saya cocok untuk menggambarkan novel ini adalah inspiratif dan menggugah. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik yang berkaitan dengan kehidupan, misalnya “tidak pernah ada kata terlambat” serta agar kita menghabiskan waktu sebaik-baiknya untuk hal-hal dan orang-orang yang kita cintai. Buku ini juga membuat saya kembali ingat dan menyadari bahwa Tuhan membatasi waktu kita hidup di dunia ini, dan kita tidak pernah tahu kapan waktu kita habis. Jadi, jangan sampai kita menyesal karena telah membiarkan waktu tersebut terbuang sia-sia.

Ada kata-kata menarik yang diucapkan Dor pada Victor Delamonte. Ia berkata, “ada alasannya mengapa Tuhan membatasi waktu manusia, untuk membuat setiap waktu yang berlalu menjadi berharga.”

Waktu akan terus berlalu, dan kita akan terus dikejar oleh tumpukan pekerjaan, tugas, tanggung jawab, dan sebagainya. Tapi semoga hidup kita tidak berlalu begitu saja menjadi tumpukan-tumpukan pekerjaan dan tugas. Ini PR untuk saya juga. 🙂

2 thoughts on “[Review] The Time Keeper, Upaya Membebaskan Diri dari Jeratan Waktu

  1. Oh ternyata ini novel ya. Aku pikir buku non fiksi gitu. Tapi pesan yang disampaikannya mantep menurut aku. Karena aku pernah kehilangan 2 orang yang aku cintai. Sejak itu aku jadi belajar untuk memanfaatkan waktu sebaik2nya dengan memaknai setiap kebersamaan itu

    1. Iya, menarik ceritanya, bikin kita mikir tentang seberapa baik kita sudah memanfaatkan waktu selama ini.
      Sabar ya, semoga kedepannya, kita bisa selalu memprioritaskan kebersamaan dengan orang-orang yang disayang. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *