Mencintai Diri Sendiri Saat Sedang Mengalami Kegagalan

Mencintai Diri Sendiri Saat Sedang Mengalami Kegagalan

Akan sangat mudah mencintai diri sendiri ketika kita sedang merasa percaya diri dengan siapa kita, atau saat mendapatkan pencapaian yang kita inginkan. Ada rasa bangga atas keberhasilan dan pencapaian tersebut yang membuat kita akan merasa lebih mudah mencintai diri sendiri. Tapi mencintai diri sendiri saat kita sedang gagal? Itu perkara lain.

Sepertinya saya memang tidak pernah bosan dengan pembicaraan soal self-love, tidak lain karena pada praktiknya saya terkadang kesulitan melakukannya. Apalagi ketika saya sedang mengalami kegagalam dalam hal apapun itu. Entah pekerjaan, impian pribadi, dan lain sebagainya.

We Are Our Worst Critics

Pernah dengar kalimat tersebut? We are our worst critics; we either judge too harshly or not enough. Atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai ‘Kita adalah kritik terburuk bagi diri kita sendiri; kita menilai terlalu keras atau tidak cukup keras.’ Kalimat tersebut ada benarnya. Saat menghadapi pencapaian atau kegagalan, terkadang kita bersikap terlalu keras dengan menghakimi dan mengkritik diri sendiri. Tapi di sisi lain, kritik yang setengah-setengah juga tidak akan membuat kita berkembang. Apalagi jika kita cukup pandai mencari-cari alasan atas kegagalan kita. Masalahnya, terkadang kritik objektif yang membangun saja sulit kita ungkapkan pada orang lain, apa lagi pada diri sendiri?

Kita adalah kritikus terburuk untuk diri kita sendiri (Image: pexels.com/Ivan Obolensky)
Kita adalah kritikus terburuk untuk diri kita sendiri (c) pexels.com/Ivan Obolensky

Nah, ketika kita tidak mampu melihat apa yang salah atau apa yang membuat kita gagal dan hanya fokus pada kegagalan itu sendiri, maka kita berada pada fase menghukum diri sendiri. Saat itulah kita mulai terlalu keras pada diri sendiri. Setidaknya itulah yang biasanya akan saya rasakan. Saya mulai malas keluar rumah dan terobsesi dengan kegagalan tersebut. Saya yakin kamu setuju bahwa sikap seperti ini sangat tidak sehat.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Saat Menghadapi Pengritik yang Tidak Rasional Ini?

Saat mulai merasa gagal, tidak berdaya, payah, dan sejenisnya, hal pertama yang akan saya lakukan adalah duduk diam dan mulai menerima kegagalan tersebut. Daripada mengejek diri sendiri seperti ‘kok bisa sih kerjaan seperti itu aja salah?’‘payah, ternyata kamu nggak sepintar itu’, dan sejenisnya, saya akan mengakui bahwa ada beberapa aspek yang tidak saya pahami atau miliki yang membuat saya gagal. Dan itu tidak masalah.

Saat mengkritik diri sendiri, kita tidak melihat keadaan dengan objektif (c)Unsplash.com
Saat mengkritik diri sendiri, kita tidak melihat keadaan dengan objektif (c)Unsplash.com

Kadang karena begitu ingin mengejar ambisi sukses yang sudah kita tetapkan sendiri, kita tidak sadar bahwa ada beberapa hal yang membuat ambisi tersebut sulit kita kejar. Sulit, meski bukan tidak mungkin. Artinya, kemungkinan kegagalan tetap ada. Dan hal tersebut yang kadang luput dari pikiran saat kita terlalu menggebu mengejar sesuatu. Bukan karena kita bodoh, tapi memang tantangan tersebut sulit. Maka langkah pertama yang saya lakukan setelah mengalami kegagalan adalah mengakui bahwa tujuan yang sedang saya kejar tersebut memang sulit. Begitu mengakui dan mengetahui kesulitannya, barulah kita bisa membuat langkah dan pendekatan yang berbeda.

Diakui atau tidak, media juga cukup berperan dengan bagaimana kita memandang diri sendiri. Di media, kebanyakan orang terlihat sukses dan kaya. Sepertinya tidak ada ruang kegagalan dalam hidup mereka. Mereka sempurna. Meski kita sadar betul itu tidak benar, namun sedikit banyak hal ini tetap saja mempengaruhi banyak orang. Kenyataannya, kejadian hidup yang tidak dramatis seperti yang ramai di media serta kegagalan-kegagalan orang lain yang tidak tersuarakan sebenarnya juga memiliki porsi yang cukup besar. Hanya saja, hal tersebut tidak menarik untuk diberitakan, maka yang kita lihat adalah sesuatu yang selalu boombastis. Kehidupan kebanyakan orang sama normalnya dengan kita, jadi jangan terlalu membebani diri sendiri dengan kritik berlebihan tentang kegagalan.

Pada akhirnya nanti, kita kamu akan ceria kembali (c)Pexels.com
Pada akhirnya nanti, kita kamu akan ceria kembali (c)Pexels.com

Keberuntungan ataupun berkah itu nyata adanya. Kadang kita terlalu kritis pada diri sendiri dengan menganggap bahwa segala hal berada dalam kendali kita, ada di tangan kita. Akibatnya ketika gagal, kita cenderung menyalahkan diri sendiri. Padahal yang perlu diketahui, keberuntungan dan berkah merupakan bagian dari kehidupan dan nyata adanya. Jadi, mengapa kita harus meratapi hal yang memang bukan keberuntungan atau rejeki kita?

Terakhir, mari kita menanamkan pikiran pada diri sendiri bahwa kita bukan sekadar pencapaian, kesuskesan, kekayaan, ataupun status sosial. Ada hal lain yang membentuk dan mengidentifikasi diri kita. Mereka yang benar-benar menyayangi dan mengenal kita, akan tahu betul bahwa ada hal lain yang penting dan berharga pada diri kita, dan berada dekat dengan mereka pula yang akan membantu kita merasakannya. Ingat-ingat kembali kata-kata yang pernah mereka ucapkan, dan sadari bahwa kegagalan tidak membuat kita menjadi sosok yang ‘kurang’.

Menerima kegagalan adalah langkah awal untuk bisa tetap mencintai diri sendiri. Percayalah, rasa sedih karena kegagalan tersebut akan segera berlalu, dan kita akan baik-baik saja.

11 thoughts on “Mencintai Diri Sendiri Saat Sedang Mengalami Kegagalan

    1. Kadang kita emang terlalu keras waktu mengritik diri sendiri. Sebenarnya nggak papa mengritik diri sendiri, tapi jangan lupa buat lihat faktor-faktor lainnya juga. Jangan lupa buat menghargai pencapaian kita juga. Semangat ya 🙂

  1. semua org pasti pernah mengalami masa kegagalan, kekecewaan dan yg lainnya entah apa namanya. Tetapi salah ketika kita harus menyalahkan diri sendiri tanpa mengevaluasi faktor penyebab kegagalan. Ayo bangkit dan terus berusaha. Yakinlah semua kesedihan itu akan berlalu dan sirna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *