Jadi Penulis Artikel Itu Nggak Segampang Keliatannya

Jadi Penulis Artikel Itu Nggak Segampang Keliatannya

Oke, kita semua udah tahu bahwa dunia internet membawa kita kepada hal-hal baru yang amazing. Berkat internet, sekarang kerja juga bisa dari rumah, tinggal duduk di depan komputer atau laptop doang. Nah, lapangan pekerjaan sebagai seorang penulis artikel sekarang ini sepertinya juga banyak dicari.

Bagi yang nggak tahu, profesi ini keliatannya emang gampang. Tinggal dateng ke kantor, nulis, lalu pulang. Ya nggak menyalahkan juga sih, emang mereka nggak tahu detailnya. Padahal ada banyak tetek-bengek lainnya yang membuat pekerjaan sebagai seorang penulis artikel nggak segampang kelihatannya.

Nggak Selamanya Ide Itu Keluar dengan Mulus

Di saat mood lagi bagus dan pikiran lagi fresh, bisa saja seorang penulis kebanjiran ide. Nulis jadi lebih mengalir dan lancar. Karena mereka udah tahu mau nulis apa dan arahnya ke mana.

Tapi ada kalanya ide juga bisa macet. Mungkin karena kejenuhan, ada masalah, atau faktor lainnya, mau meres otak macam apa juga yang keluar hasilnya ide yang nggak terlalu seru. Ya mungkin memang masih bisa ditulis sih, tapi kadang impact tulisan jadi nggak bagus. Mulai dari idenya nggak seru, atau bentuk tulisan yang bertele-tele. Itu semua ngaruh!

Sering kan kita membaca artikel dan merasa tulisannya kurang to the point atau nggak jelas alur kalimatnya? Nah, itu mungkin karena penulisnya emang lagi buntu aja, bukan karena nggak bisa nulis.

Mata Harus Ekstra Teliti dan Waspada Typo

Typo alias salah tulis itu bisa dibilang adalah musuh terbesar para penulis, yah meskipun mereka sendiri sih yang bikin typo. Saat menulis rangkaian kata-kata, penulis juga ekstra waspada dengan apa yang ditulis, apakah tulisannya udah bener atau nggak, ada typo atau nggak. Karena hal tersebut juga menunjukkan ketelitian si penulis.

Jangan khawatir, penulis tentu nggak sengaja bikin typo. Tapi bisa jadi karena dikejar deadline atau target plus pikiran yang buntu, akhirnya penulis juga jadi tergesa-gesa dan akibatnya banyak typo. Sebagai pembaca sih kadang kita bisa enak aja ketawa-ketawa nemu typo, apalagi yang fatal typonya. Sebaliknya, si penulis justru sport jantung kalau ketahuan typo. Bisa-bisa kena tegur atau bahkan sangsi dari atasan.

Pageview? Apaan Tuh?

Menjadi seorang penulis artikel itu nggak sekedar nulis. Mereka juga harus bisa bikin topik yang menarik buat pembaca. Efeknya nanti bisa meningkatkan pageview. Nah lho, apa sih pageview? Pageview itu semacam perhitungan berapa kali artikel tersebut dibaca. Kalau banyak yang baca ya itu bagus, kalau sedikit, ya ngenes. Karena itu nanti juga berpengaruh pada rapor performance mereka.

Nah, itulah sebabnya mengapa penulis juga harus bisa ‘meramal’ kira-kira artikel macam apa yang bakal disukai atau dibaca pembaca. Dan ini nggak mudah, karena beda kepala berarti beda ketertarikan. Sesuatu yang bagi kita menarik, bagi orang lain belum tentu. Nah, pusing kan kalau begini? Itulah kenapa kadang kita nemu artikel promo di sosial media yang judulnya heboh banget. Biar si pembaca tergoda buat ngeklik beritanya lalu baca artikelnya. Meskipun kadang sebenernya isi artikelnya biasa aja. Tapi banyak juga kok media yang lebih fair dalam menulis judul yang sesuai dengan isinya.

Reaksi Pembaca

Reaksi pembaca itu juga merupakan satu hal yang paling diharapkan penulis. Kalau reaksi pembacanya bagus, baik pro maupun kontra kalau disampaikan dengan baik, penulis bakal seneng. Karena itu artinya banyak orang yang benar-benar baca artikelnya. Nggak cuma liat judul aja.

Masalahnya, kayaknya situasi media sosial sekarang ini lumayan mengerikan. Semua bisa berkomentar semaunya sendiri dan kadang tanpa filter. Nggak jarang juga ada yang suka komentar asal nyeplos cuma karena baca judulnya aja dan nggak baca artikelnya sampai selesai. Kalau si penulis termasuk tipe yang cuek, mereka nggak bakal begitu terpengaruh sama komentar-komentar negatif atau yang menghina sih. Tapi kalau penulisnya perasa, wah, bisa kepikiran sampai berhari-hari tuh dan bahkan susah makan serta susah tidur.

Deadline dan Kuota

Jadi penulis itu juga dikejar deadline. Pusingnya lagi, terkadang deadline dibuat dalam hitungan jam. Misalkan artikel harus tayang pukul sekian. Nah, bayangkan kalau ada topik hot yang lagi banyak-banyaknya dalam sehari itu saja. Maka penulis juga harus ngebut nulis agar artikelnya nggak ketinggalan trend dan nggak basi.

Terkadang, penulis juga punya jatah kuota. Misalkan sehari harus bisa menyelesaikan berapa artikel dengan bobot seperti apa. Kalau sampai berjam-jam nggak punya ide, alamat lembur di kantor demi menyelesaikan kuota.

No Copas!

Ini merupakan peraturan penting bagi seorang penulis. Seorang penulis sejati nggak boleh menjiplak tulisan orang lain. Ide mereka harus kreatif, atau kalau memang mau membicarakan tema yang sama, mereka harus menulis dengan kata-kata mereka dan pemikiran mereka sendiri. Nggak boleh asal copas aja. Konsekuesinya berat bagi seorang penulis artikel resmi kalau sampai mereka ketahuan copas. Bisa langsung dipecat! Belum lagi kalau dituntut sama pihak yang merasa dirugikan karena artikel mereka dijiplak gitu aja. Ngeri kan?

Nah, karena penulis artikel tahu bahwa mereka nggak bisa copas gitu aja, mereka jadi berpikir keras buat bikin artikel yang orisinil. Karena bikinnya nggak gampang, rasanya bakal nyesek banget kalau sampai tahu ada orang yang copas artikel mereka. Apalagi kalau artikel copas-an tersebut ternyata lebih banyak dibaca dan disukai dari yang dipublish di tempat aslinya. Jadi, pesen buat mereka yang hobi copas artikel orang laen, “Tega banget sih” T_T

Itu tadi sebagian hal-hal detail yang perlu diperhatikan oleh para penulis. Jadi, lain kali kalau ketemu seorang penulis, ada baiknya kalau nggak asal ngomong, “wah, enak yah kerjanya cuma nulis.” Soalnya jadi penulis juga punya tantangannya sendiri, sama dengan profesi lain dengan tantangannya masing-masing.

Bagi para penulis di luar sana… “Keep on writing dan semangat yah!” 🙂

8 thoughts on “Jadi Penulis Artikel Itu Nggak Segampang Keliatannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *