Call Me By Your Name, Film Kontroversial dengan Sinematografi yang Luar Biasa Cantik

Call Me By Your Name, Film Kontroversial dengan Sinematografi yang Luar Biasa Cantik

Call Me By Your Name memang bukan film terbaru, mengingat film ini sudah tayang sejak tahun 2017 lalu. Meski demikian film besutan Luca Guadagnino ini memang rasanya tidak akan tayang di Indonesia, pasalnya film ini mengangkat tema gay-romance. Tapi jika kamu tidak keberatan dengan genre seperti ini, film ini menurut saya layak ditonton. Tapi awas, akan ada beberapa adegan nudity di dalamnya. Jadi jika kamu tidak nyaman dengan nudity apalagi yang bertema gay, lebih baik jauh-jauh dari film ini, ya!

Oke, lanjut dengan jalan ceritanya. Film ini bercerita tentang cinta pertama seorang remaja bernama Elio (Timothée Chalamet) dan seorang asisten ayahnya yaitu pria Amerika bernama Oliver (Armie Hammer). Film ini lebih dari sekadar drama kisah cinta biasa, tapi bercerita tentang pendewasaan seorang remaja (yaitu Elio) dan kebingungannya menghadapi perasaan cinta yang ia alami untuk pertama kalinya. Tidak hanya jatuh cinta untuk pertama kalinya, Elio juga harus merasakan patah hati untuk pertama kalinya pula.

Oliver dan Elio [Image Source]
Awalnya Elio merasa bahwa keberadaan Oliver tersebut sangat menganggu dan menganggapnya arogan. Namun perlahan akhirnya ia menyadari bahwa ia ternyata jatuh cinta pada Oliver dan begitu pula sebaliknya. Cerita yang manis, disertai gairah seorang remaja yang mulai beranjak dewasa diceritakan dengan manis dan sederhana di film ini, membuat Call Me by Your Name menjadi film yang terasa mengena. Terlepas dari tema LGBT yang diangkatnya, saya rasa film ini cukup menggambarkan manis dan pahitnya kisah cinta pertama. Bagaimana rasa canggung, takut, sekaligus kagum pada sosok yang kita cintai.

Dengan jalan cinta yang manis dan menarik, sulit rasanya untuk tidak jatuh cinta dengan film ini. Namun lebih dari itu, apa yang membuat saya benar-benar terkesima adalah sinematografi dan tone warna yang disajikan dalam film Call Me by Your Name ini. Secara keseluruhan, tone warna dalam film ini memberikan kesan dreamy, lembut, dan hangat. Ditambah dengan setting Italia tahun 1983. Pertama kali melihat nuansa warna dalam film ini, apa yang ada di pikiran saya adalah seperti sedang mengenang memori atau kenangan yang terjadi jauh di masa lampau. Bahkan kenyataannya, dalam novel aslinya Call Me by Your Name memang ditulis dengan sudut pandang Elio yang menceritakan kenangannya tentang Oliver.

Tone warna dalam Call Me by Your Name [Image Source]
Sepanjang film tidak terlihat gambar yang terkesan tegas dan bold. Semua warnanya memberikan suasana seduktif, romantis, dan dreamy. Menjelang adegan film, tone warna berubah gelap, dan kelabu serta terkesan lebih tegas. Seolah kita sudah dibawa kembali ke masa kini. Ada salah satu adegan dengan gambar yang menarik. Saat itu Elio tengah duduk diam di taman sendirian dan tengah frustasi dengan perasaannya terhadap Elio, suasana tampak gelap, kamera diam, dengan pencahayaan yang sedikit redup disertai dengan kilatan cahaya lembut. Sedangkan bagian background taman yang menghijau tampil blur, semakin memberikan kesan dreamy yang manis.

Biasanya saya tidak terlalu memperhatikan tone warna sebuah film, tapi karena di film ini terlihat jelas berbeda, mau tidak mau saya jadi kepikiran terus dan memang terpana dengan sinematografinya. Ditambah lagi dengan akting dua pemeran utamanya yang luar biasa. Ada adegan yang membuat saya ikut trenyuh yaitu adegan terakhir ketika Elio diam duduk di perapian, menangis tanpa suara. Dalam adegan tersebut hanya terdengar suara gemertak perapian dan suara piring yang ditata di kejauhan. Sudah, hanya begitu saja, tapi saya ikut menangis sepanjang adegan tersebut. 😀 Kemudian samar mulai terdengar musik penutup dari Sufjan Stephens yang berjudul Vision of Gideon. Sungguh eksekusi yang luar biasa.

Adegan terakhir yang bikin saya trenyuh [Image Source]
Kita dibuat fokus dengan apa yang terjadi pada Elio sedangkan hal-hal yang terjadi di sekitarnya hanya terlihat seperti sesuatu yang jauh dan tidak signifikan. Seperti ketika kita sedang patah hati, maka hanya kita yang dapat merasakan dan melihat kenangan, kebahagiaan dan kesedihan karena cinta pertama, sehingga hal-hal lain di luar itu seolah hanya suara samar di kejauhan.

Satu lagi, yang tidak kalah luar biasa adalah soundtrack yang begitu pas sehingga rasanya memang tercipta untuk film ini.  Lagu-lagu soundtrack dibawakan oleh Sufjan Stephens yang juga punya kesan karakter manis dan lembut di setiap lagunya. Nanti saya akan membahas tentang Sufjan Stephens di postingan terpisah, ya. Sebenarnya saya tahu film ini karena mendapatkan rekomendasi untuk mencoba mendengarkan lagunya. Dan yup, saya memang jatuh cinta dengan musiknya juga.

Untuk kamu yang sudah pernah nonton filmnya, apa pendapatmu tentang Call Me By Your Name?

One thought on “Call Me By Your Name, Film Kontroversial dengan Sinematografi yang Luar Biasa Cantik

  1. Saya bersyukur karena norma kolot orang Indonesia yang membuat manajemen bioskop lokal tidak mungkin menayangkannya di sini.

    Tapi tulisan ini membuat saya mempertimbangkan ulang untuk menonton film tersebut. Setidaknya agar komentar saya selanjutnya tidak se-ngawur ini. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *